Sendai Angklung Club

Suasana Latihan dan Performance, Cerita2, Foto2

My Photo
Name:
Location: Sendai, Miyagi, Japan

Sendai Angklung Club (SAC) is a group whose members are Indonesians living/studying in Sendai, Japan, sharing similar interest on traditional Indonesian instrument called Angklung. The club has perfomed various songs (Indonesian, Japanese, others) in many charity and international cultural exchange events around Miyagi prefecture.

Monday, November 06, 2006

Tome shi Matsuri




Tome shi tahun ini mengadakan matsuri untuk pertama kalinya. Dan angklung mendapat kehormatan mengisi acaranya. Persiapan sudah lumayan mantap juga kita datang tepat waktu di Kotodai Koen, tempat dimana bis menjemput. Saya (budiyati) sekeluarga sampai dibela-belain naik taksi karena takut terlambat.

Pak Risdi yang kebetulan sedang di Sendai tidak ketinggalan ikut bergabung. Natsukashi katanya. Sayang ya jeng Unixnya tidak diajak, kita-kita kangen nih sama jeng Unix. Kapan-kapan kalau ada kesempatan ke Sendai ajak jeng Unix dan ichiro ya Pak!

Jam 7.30 sudah sampai di kotodai koen, anggota yang lain juga paling lambat jam 8 sudah datang. Ditunggu-tunggu kok bisnya tidak berangkat-berangkat? ternyata ada pengisi acara dari Brazil yang belum datang. Okelah mungkin ditunggu sampai beberapa menit. Setengah jam berlalu belum tampak juga batang hidungnya. Orang-orang lain mulai gelisah.

Pak Dida yang sudah lari-lari ketoilet karena takut ditinggal sampai sudah kerasa mau ke toilet lagi. Make up bu Ade juga mulai luntur tuh! anak-anak mulai gelisah, bayi-bayi (kebetulan ada 2 bayi yang ikut yaitu Lula dan bayi Turki) mulai menangis.

Satu jam sudah berlalu, panitia mengumumkan sudah mau berangkat, tiba-tiba ada orang lari-lari baru datang. Ternyata si burajiru tanpa kata-kata maaf langsung aja dia mencari tempat duduk. Hehehe... lain negara lain budaya kali yah. Kali ini yang mengherankan, kenapa panitia sampai mau memberi toleransi waktu selama itu ya? Mungkin karena panitia sudah mengerti kalau berurusan dengan orang asing yg beda budaya, masalah jam karet adalah sudah biasa? Atau memang ada alasan rasional yang memang benar-2 memaksa orang Brazil itu terlambat 1 jam? Nggak tahu deh…

Perjalanan selama 1.30 menit lumayan capek, dan lebih capek lagi karena menunggu si burajiru selama 1 jam. Mana ternyata dia menari tidak sampai 2 menit masih mending tari merak (suit..suit...hehehe...) atau tari piring ya Def? Tim angklung sempat latihan sekali sebelum tampil dan ternyata dibandingkan penampilan yang lain angklung mendapat sambutan paling meriah.

Tidak heran karena setelah selesai tampil ada sesi penonton mencoba memainkan angklung. Dan ini tidak dilakukan oleh performer yang lain. Penonton benar-benar excited. Dan tentu ini berkat tangan dingin Yonan sensei.

Setelah semua performance selesai dilanjutkan dengan makan-makan. Berbagai macam hidangan japanese tersedia. Tim angklung juga membawa puding santan gula merah olahan bunda Nenden. Tapi tidak sempat dibawa ke ruang makan karena keburu ludes di ruang pameran.

Sebetulnya tim angklung sudah bawa bento sendiri-sendiri karena katanya panitia tidak menyediakan makan siang. Tapi walaupun sudah pada makan bento masing-masing, melihat hidangan menggugah selera siapa yang menolak!

Akhirnya sekitar jam 2 kita meluncur kembali dengan bis yang sama ke Sendai. Tahun depan ada matsuri lagi enggak ya di Tomeshi?

Sunday, November 05, 2006

Kokusai Matsuri




Pada kokusai matsuri tahun ini angklung bisa ikut berpartisipasi tampil. Sekaligus merupakan penampilan perdana Masako san dan mbak Dewi. Lucu juga ya...SAC ini. Tiap tampil selalu ada yang baru ataupun yang tidak bisa ikut. Tapi pada maklum kali ya...habis kegiatan angklung ini sebagai pengisi waktu luang atau sekedar refreshing buat anggotanya.

Tapi bisa berjalan dan selalu bisa memenuhi order tampil sudah bersyukur. Jarang-jarang kali ya suatu negara bisa menampilkan grup kesenian yang kompak, walau anggotanya datang dan pergi.

Kembali ke kokusai matsuri, sebetulnya penampilannya lumayan bagus walau seperti biasa ada nada-nada yang hilang alias lupa goyang. Maklumlah biasanya satu nada yang pegang 2 orang ini cuma 1 orang. Malah banyak yang pegang 2 nada. Biasanya kalo 1 nada yang pegang 2 orang bisa saling mengandalkan hehehe...

Walaupun lumayan bagus saat-saat terakhir penampilan ada yang terasa hambar, yaitu tidak ada tepuk tangan yang mengiringi saat lagu sekai dimainkan. Biasanya saat sekai main penonton antusias mengiringi dengan tepuk tangan. Padahal banyak penonton Indonesianya lho!eehh..apa hubungannya yach? maksudnya mereka bisa memancing penonton lain untuk ikut tepuk tangan gitu!

Wednesday, November 01, 2006

Suasana Latihan pertama kali (Januari 2005)

The Very First Show

Doremi in TUFSA Charity Concert


Sekai in Watari International Festival




Performer : Yonan, Iis, Ritha, Arta, Abby, Agus, Ila, Felis, Wida, Risdi, Budi, Yessi
Keyboard : Dony

Indonesia Festival 2005

Sekai ni Hitotsu Dake no Hana


Bengawan Solo